“ibu sih gak perhatiin Vika! Vika
kan mau juga di perhatiin! Ibu perhatiannya sama yang kecil-kecil mulu! Vika
gak mau main sama ibu!”
Wajah cantik dihadapanku itu
memerah. Matanya sembab berlinang air mata. Suaranya bergetar menahan kesal.
Aku mundur perlahan, gentar…
“Astagfirullah… apa yang barusan
ku lakukan sehingga membuatnya menangis?” batinku bertanya menyudutkan diriku
sendiri, bodoh…
Kuraih tangan mungilnya, aku
berkata terbata-bata, menjelaskan bahwa aku tak mengerti inginnya. Dia
menepisku cepat sambil tetap terisak. Aku takut…
Lamunanku buyar oleh suara
gemericik air yang tumpah dari ember cucian. Jam 13.29. baru sehari setelah aku
menghabiskan seharian penuh bermain di Taman Mini dengan mereka, anak-anak
comdevku yang lucu. Beberapa kali aku ke sana, membuat sebuah puzzle di
memoriku, semuanya indah. Tapi setelah ini, hari-hari kedepan, ketika aku
berkunjung lagi, aku pasti akan lebih sering de ja vu dengan kenangan
bersama anak-anak. Ini yang terindah.
Mereka, aku menyaksikkan mereka
tumbuh. Gozzanku yang dulu selalu tertawa lucu, kini mulai bisa berekspresi marah ketika ada
sesuatu yang mengusiknya. Rukiku yang pendiam, telah membuatku tercengang
dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi, ibu itu yang dilangit roket ya? mau
keluar angkasa ya bu? Tapi kenapa ruang angkasa ada di atas? Kalau di atas,
ntar bernafasnya sama apa? Luar angkasa gede ya bu?. Subhanallah… apakah
Allah yang mengajarimu demikian nak? Bahkan ibu tak mampu menjelaskannya. Ociku
yang kini bisa mengeja, Nabilahku yang kini pandai bernyanyi dan bercerita,
Sifaku yang matanya berbinar di atas ayunan, ibu dulu sama sepertimu nak,
selalu suka ayunan dan angin yang selalu berbisik, suatu saat nanti ibu pasti
bisa terbang seperti burung. Dan suatu saat kaupun akan pergi jauh, terbang
seperti burung, menyaksikkan mimpimu dilangit tercapai satu demi satu. Iipku
yang pucat karena sakit, Allah hanya sedang mengajarimu bahwa selalu ada
bahagia bagaimanapun jua kondisimu nak. Indraku yang masih penakut, suatu
saat nanti kau akan menjadi seperti Khalid yang pemberani nak. Dyraku yang
pencemburu, sekarang kau lebih siap meninggalkan TK nak. Aku menyaksikkan
semua… mereka, anak-anakku, satu demi satu mereka tumbuh.
Suatu hari nanti, ketika Allah
takdirkan ada seorang malaikat kecil yang lahir dari rahimku, aku pasti akan
teringat pada kalian, nak. Malaikat kecilku pun akan tumbuh selucu Gozan,
sepintar Ruki, seceria Nabilah, sepolos Sifa, dan sesholeh kalian semua. Dan
ketika saat itu tiba, ketika malaikat kecilku baru belajar bicara sambil
mengerjapkan mata, kalian mungkin sudah tumbuh lebih besar dari sekarang.
Kalian mungkin akan lupa, bahwa dulu kalian punya ibu guru yang setiap jum’at
jilbab putihnya kalian kotori dengan cap tangan kalian, ibu guru yang selalu
menangis ketika menuliskan nama kalian dalam catatan, ibu guru yang selalu
kalian kecup tangannya berkali-kali, ibu guru yang menemani kalian melambung
tinggi bermain ayunan dan jungkat-jungkit, ibu guru yang berteriak gemas
manakala kalian sedikit lebih aktif dari biasa…
Ketika nanti Allah sempatkan malaikat
kecilku tumbuh remaja, kalian mungkin telah dewasa, memakai seragam putih
abu-abu dan jilbab panjang yang cantik. Vika, kau mungkin telah menjadi
mahasiswi yang cerdas, nak. Kala waktu itu tiba, ingin rasanya ibu melihat
kalian duduk di puri lingua, berhadapan dengan celoteh anak-anak, tersenyum
menanggapi kelucuan dan kenakalan anak-anak, berlarian mengejar ‘Gozan dan
Sidiq’ lainya. Ibu ingin kalian meneruskan comdev ini. Menggantikan ibu yang
tidak sempurnya dalam mendidik kalian. Sungguh ibu ingin menjadi saksi ketika
saat itu tiba, anakku sayang…
Tumbuh dan berkembanglah nak. Jadilah
anak-anakku yang sholeh, cerdas, dan apa adanya. Kau tahu, ingin sekali rasanya
suatu saat nanti jilbab putih ibu akan bersaksi di hadapan Ilahi, bahwa noda
bekas tangan kalian ini mengizinkan ibu mecicipi Syurga dan membuat bidadari
cemburu karenanya. Doakan ibu nak, anakku sayang…
Jakarta, 1 Juli 2012
Terimakasih Allah yang telah
mengizinkanku memiliki harta yang paling terindah…
oleh : Nadia