Minggu, 30 September 2012

Catatan Hati Ibu Guru 1


Dalam perjalanan enam bulan ini nak, bu gurumu ini ternyata tak tau banyak tentang duniamu. bu guru mungkin pernah marah atau berteriak kepadamu, maafkan nak… maafkan jika ternyata itu membatasi duniamu.

Ketika kau berkata enggan mewarnai, harusnya ibu tak perlu memaksamu mewarnai dengan menyodorkan gambar dan crayon warna-warni. Karena harusnya ibu tau bahwa duniamu ternyata lebih indah dari batang crayon warna-warni.

Ketika kau lebih memilih berlarian, melompat, merangkak, berkejaran, atau bersembunyi, harusnya ibu mengerti bahwa kau sedang melatih motorikmu, mengeksplorasi fisikmu, bercanda dengan tanah dan debu yang menempel pada baju dan celanamu. Harusnya ibu ikut berlarian menemanimu. Harusnya ibu tau itu nak…

Ketika kau berdo’a dengan bahasamu sendiri, dengan tangan terangkat dan khusyuk yang tak pernah tercipta, harusnya ibu tau bahwa itulah caramu berbicara dengan Tuhanmu. Kau berbicara dengan-Nya dengan caramu sendiri yang indah nak…

Maaf ketika ibu ternyata pernah merusak harapanmu, menghancurkan kepercayaanmu, dan membatasi duniamu. maaf karena tak bisa memahami duniamu secara sempurna. Maaf untuk warna-warna pucat yang terkadang secara tak sengaja tercipta.

Izinkan bu guru terus belajar memahami pelangi warnamu. Izinkan bu guru belajar memasuki duniamu. izinkan bu guru belajar berbicara dengan hati. Izinkan untuk kesekian kali nak… izinkan…

Jakarta, 8 Desember 2011
Tak ada seorangpun yang berhak merenggut dunia anak-anak. Tak ada seorangpun yang berhak merusak harapan dan kepercayaan anak-anak. Karena kau tahu kenapa? Karena mereka memiliki dunia yang istimewa. Dunia mereka adalah dunia universal, mereka saling berbagi dunia yang sama dengan anak-anak di belahan bumi manapun. Mereka saling memahami tanpa perlu berkomunikasi. Dunia bermain warna-warni, aku menyebutnya demikian. Jangan pernah membatasinya. Jangan pernah merusaknya. Jangan pernah


oleh: Nadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar