Dalam perjalanan enam bulan ini
nak, bu gurumu ini ternyata tak tau banyak tentang duniamu. bu guru mungkin
pernah marah atau berteriak kepadamu, maafkan nak… maafkan jika ternyata itu
membatasi duniamu.
Ketika kau berkata enggan
mewarnai, harusnya ibu tak perlu memaksamu mewarnai dengan menyodorkan gambar
dan crayon warna-warni. Karena harusnya ibu tau bahwa duniamu ternyata lebih
indah dari batang crayon warna-warni.
Ketika kau lebih memilih
berlarian, melompat, merangkak, berkejaran, atau bersembunyi, harusnya ibu
mengerti bahwa kau sedang melatih motorikmu, mengeksplorasi fisikmu, bercanda
dengan tanah dan debu yang menempel pada baju dan celanamu. Harusnya ibu ikut
berlarian menemanimu. Harusnya ibu tau itu nak…
Ketika kau berdo’a dengan
bahasamu sendiri, dengan tangan terangkat dan khusyuk yang tak pernah tercipta,
harusnya ibu tau bahwa itulah caramu berbicara dengan Tuhanmu. Kau berbicara
dengan-Nya dengan caramu sendiri yang indah nak…
Maaf ketika ibu ternyata pernah
merusak harapanmu, menghancurkan kepercayaanmu, dan membatasi duniamu. maaf
karena tak bisa memahami duniamu secara sempurna. Maaf untuk warna-warna pucat
yang terkadang secara tak sengaja tercipta.
Izinkan bu guru terus belajar
memahami pelangi warnamu. Izinkan bu guru belajar memasuki duniamu. izinkan bu
guru belajar berbicara dengan hati. Izinkan untuk kesekian kali nak… izinkan…
Jakarta,
8 Desember 2011
Tak
ada seorangpun yang berhak merenggut dunia anak-anak. Tak ada seorangpun yang
berhak merusak harapan dan kepercayaan anak-anak. Karena kau tahu kenapa?
Karena mereka memiliki dunia yang istimewa. Dunia mereka adalah dunia
universal, mereka saling berbagi dunia yang sama dengan anak-anak di belahan
bumi manapun. Mereka saling memahami tanpa perlu berkomunikasi. Dunia bermain
warna-warni, aku menyebutnya demikian. Jangan pernah membatasinya. Jangan
pernah merusaknya. Jangan pernah…
oleh: Nadia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar