Minggu, 30 September 2012

Catatan Hati Ibu Guru 2


“ibu sih gak perhatiin Vika! Vika kan mau juga di perhatiin! Ibu perhatiannya sama yang kecil-kecil mulu! Vika gak mau main sama ibu!”

Wajah cantik dihadapanku itu memerah. Matanya sembab berlinang air mata. Suaranya bergetar menahan kesal. Aku mundur perlahan, gentar…

“Astagfirullah… apa yang barusan ku lakukan sehingga membuatnya menangis?” batinku bertanya menyudutkan diriku sendiri, bodoh…

Kuraih tangan mungilnya, aku berkata terbata-bata, menjelaskan bahwa aku tak mengerti inginnya. Dia menepisku cepat sambil tetap terisak. Aku takut…

Lamunanku buyar oleh suara gemericik air yang tumpah dari ember cucian. Jam 13.29. baru sehari setelah aku menghabiskan seharian penuh bermain di Taman Mini dengan mereka, anak-anak comdevku yang lucu. Beberapa kali aku ke sana, membuat sebuah puzzle di memoriku, semuanya indah. Tapi setelah ini, hari-hari kedepan, ketika aku berkunjung lagi, aku pasti akan lebih sering de ja vu dengan kenangan bersama anak-anak. Ini yang terindah.

Mereka, aku menyaksikkan mereka tumbuh. Gozzanku yang dulu selalu tertawa lucu, kini  mulai bisa berekspresi marah ketika ada sesuatu yang mengusiknya. Rukiku yang pendiam, telah membuatku tercengang dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi, ibu itu yang dilangit roket ya? mau keluar angkasa ya bu? Tapi kenapa ruang angkasa ada di atas? Kalau di atas, ntar bernafasnya sama apa? Luar angkasa gede ya bu?. Subhanallah… apakah Allah yang mengajarimu demikian nak? Bahkan ibu tak mampu menjelaskannya. Ociku yang kini bisa mengeja, Nabilahku yang kini pandai bernyanyi dan bercerita, Sifaku yang matanya berbinar di atas ayunan, ibu dulu sama sepertimu nak, selalu suka ayunan dan angin yang selalu berbisik, suatu saat nanti ibu pasti bisa terbang seperti burung. Dan suatu saat kaupun akan pergi jauh, terbang seperti burung, menyaksikkan mimpimu dilangit tercapai satu demi satu. Iipku yang pucat karena sakit, Allah hanya sedang mengajarimu bahwa selalu ada bahagia bagaimanapun jua kondisimu nak. Indraku yang masih penakut, suatu saat nanti kau akan menjadi seperti Khalid yang pemberani nak. Dyraku yang pencemburu, sekarang kau lebih siap meninggalkan TK nak. Aku menyaksikkan semua… mereka, anak-anakku, satu demi satu mereka tumbuh.

Suatu hari nanti, ketika Allah takdirkan ada seorang malaikat kecil yang lahir dari rahimku, aku pasti akan teringat pada kalian, nak. Malaikat kecilku pun akan tumbuh selucu Gozan, sepintar Ruki, seceria Nabilah, sepolos Sifa, dan sesholeh kalian semua. Dan ketika saat itu tiba, ketika malaikat kecilku baru belajar bicara sambil mengerjapkan mata, kalian mungkin sudah tumbuh lebih besar dari sekarang. Kalian mungkin akan lupa, bahwa dulu kalian punya ibu guru yang setiap jum’at jilbab putihnya kalian kotori dengan cap tangan kalian, ibu guru yang selalu menangis ketika menuliskan nama kalian dalam catatan, ibu guru yang selalu kalian kecup tangannya berkali-kali, ibu guru yang menemani kalian melambung tinggi bermain ayunan dan jungkat-jungkit, ibu guru yang berteriak gemas manakala kalian sedikit lebih aktif dari biasa…

Ketika nanti Allah sempatkan malaikat kecilku tumbuh remaja, kalian mungkin telah dewasa, memakai seragam putih abu-abu dan jilbab panjang yang cantik. Vika, kau mungkin telah menjadi mahasiswi yang cerdas, nak. Kala waktu itu tiba, ingin rasanya ibu melihat kalian duduk di puri lingua, berhadapan dengan celoteh anak-anak, tersenyum menanggapi kelucuan dan kenakalan anak-anak, berlarian mengejar ‘Gozan dan Sidiq’ lainya. Ibu ingin kalian meneruskan comdev ini. Menggantikan ibu yang tidak sempurnya dalam mendidik kalian. Sungguh ibu ingin menjadi saksi ketika saat itu tiba, anakku sayang…

Tumbuh dan berkembanglah nak. Jadilah anak-anakku yang sholeh, cerdas, dan apa adanya. Kau tahu, ingin sekali rasanya suatu saat nanti jilbab putih ibu akan bersaksi di hadapan Ilahi, bahwa noda bekas tangan kalian ini mengizinkan ibu mecicipi Syurga dan membuat bidadari cemburu karenanya. Doakan ibu nak, anakku sayang…

Jakarta, 1 Juli 2012
Terimakasih Allah yang telah mengizinkanku memiliki harta yang paling terindah…


oleh : Nadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar