Ketika kau bertanya tentang sebuah malam dimana kau harus bergelut menyelesaikan 4 soal, sedang di atasmu bintang tengah berdzikir menghiasi sepertiga malam, di bawahmu rerumputan basah tengah bertasbih bersama embun menunggu datang fajar, bersama sebuah cahaya lilin kau bertanya. Baiklah, maka akan ku ceritakan padamu sebuah kisah mengenai anak-anak sebuah desa nun jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, aku menyebutnya dengan desa cahaya. Disana tak kan kau temui lampu-lampu yang menyala, karna memang tidak ada listrik, tapi percayalah, bintang disana ternyata Allah ciptakan lebih terang dari pada bintang-bintang yang lain.
Aku mengunjunginya setahun silam, dan kau tau, rindu itu masih kurasa hingga setahun ini; aroma hujan, asap dapur, bukit hijau membentang, gubuk yang selalu berderit manakala berpindah posisi, dan anak-anak yang berbinar melihatku membawa crayon. Ah , anak-anak itu, mereka bahkan bertelanjang kaki pergi ke sekolahnya, memakai baju seadanya, membawa sebuah buku tulis untuk semua mata pelajarannya. Seperti pagi-pagi sebelumnnya, mereka akan sarapan nasi sisa semalam dengan taburan garam, atau kalau beruntung dengan sedikit sambal. Yang kurang beruntung mungkin tidak akan pergi ke
sekolah, mereka akan perggi ke ladang membantu orang tuanya menggarap tanah orang lain, atau pergi ke hutan mencari kayu bakar bersama anjing-anjing kurus. Mereka polos, bahkan tak tahu apa itu nugget, jadi kala itu ku biarkan mereka makan nugget panitia. Jangankan nugget, makan nasi sehari sekali adalah hal hebat yang harus mereka syukuri, karena justru sering kali mereka tidak makan dalam sehari.
Tapi, lihatlah, ketika malam menjelang, udara dingin menusuk tulang membangunkan kesadaran, sedang orang-orang dewasa pergi tidur mereka bergelut dengan nyala lilin untuk menekuri baris demi baris huruf di buku cetak yang sudah kumal. Mengeja huruf demi huruf, menyalinnya dalam buku tulis yang ujung-ujungnya bergulung, dengan pensil sepanjang kelingking orang dewasa. Langit di atas sana sama dengan langit di atasmu kala itu, gelap pekat dengan hiasan bintang tengah berdzikir. Rumput disana sama seperti rumput yang kau duduki kala itu, rerumputan basah tengah bertasbih bersama embun. Semuanya sama, hanya saja kau melakukannya sekali dan mereka melakukannya setiap hari, kau melakukannya dengan mata setengah terbuka karena kantukmu, tapi mereka melakukannya dengan mata terbelalak antusias mencoba membaca dengan benar barisan kata yang tertepa bayang-bayang lilin.
Maka belajarlah dari anak-anak desa cahaya, bahwa ada cahaya di atas cahaya. Ada cahaya bintang di atas cahaya lilin, lampu petromaks, dan lampu pijar. Tapi di atas cahaya semua lampu-lampu dan bintang, masih ada cahaya yang lebih terang; cahaya-Nya yang menerangi hati setiap hamba untuk peka terhadap sesama, melihat baik-buruk dengan jelas, menuntun hati untuk selalu belajar dari setiap babak kehidupan.
…Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki... (TQS An-Nur: 35)
GOES TO CIBUYUTAN part II
oleh: Nadia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar