Minggu, 30 September 2012

DAFTAR KAKAK ASUH*

UPDATE
DAFTAR KAKAK ASUH COMDEV FBS


BAHASA JERMAN
Aini Alviani (2009)
Maharani (2012)
Dessy

BAHASA INDONESIA
Nuriyas Wuri (2009)
Fadhilatunnisa (2011)
Kania (2011)
Lala (2011)
Marita (2011)
Ria Anggari P. (2011)
Siti Wahyuni (2011)
Alfian Chairudin (2012)
Bunga Indah Rahayu (2012)
Charoline Vinche (2012)
Chesaria Lintang (2012)
Ellawati (2012)
Fajri Syamsi A. (2012)
Mega Nawangsih (2012)
Mia Ardhila (2012)
Fatimah
Peni Suprapti

BAHASA PRANCIS
Ria Ismayani (2009)
Alamsyah Daira S. (2010)
Agatha Devi Retno (2011)
Annisa Istiqomah (2011)
Arista Dwi P. (2011)
Arranti Aditya L. (2011)
Erdina Puspita Rini (2011)
Fahmi Hendriawan (2011)
Mustikawati (2011)
Novia Rahmah (2011)
Siti Khairunnisa (2011)
Sri Wuri Pangesti (2011)
Dewi Aryanti (2012)
Shella Fachrizky (2012)

BAHASA INGGRIS
M. Sahid Sundana (2008)
Laras (2009)
Rahmah (2009)
Ardy Irawan (2010)
Farihatul Hikmah (2010)
Lola (2010)
Rizky Dinar (2010)
Shintia Andini (2010)
Suryani Achtasuri (2010)
Ayu Nurulhaq F. (2011)
Nurul Adha K. (2011)
Claudia Agustia (2012)
Farah Novia (2012)
Indah D. (2012)
Kartika (2012)
Khairunnisa (2012)
Maratun Najjah (2012)
Maria Magdalena (2012)
Miftah Nuraulia (2012)
Mudrika (2012)
Yunita (2012)
Atikah
Rizky Ika

BAHASA ARAB
Reza Indrawan (2010)
Ahmad Kamalludin (2011)
Anis Septiani (2011)
Agus Purwanti (2012)
Dami Lavie A. (2012)
Habibah (2012)
Izzul Millah (2012)
Milla Tina Aghnia (2012)
Nur Adibatul L. (2012)
Robiatul Adawiyah (2012)
Sakuntala Alfiyah (2012)
Sarah Dita Ariyani (2012)

BAHASA JEPANG
Islamia Rusdiana (2009)
Agastya Negara Y. (2012)
Alpian Indra G. (2012)
Annisa Uz Dzakiyah (2012)
Dilla Leoni Brata (2012)
Dwivani Desianti (2012)
Fitri Ardhini (2012)
Fitria (2012)
M. Ichwan Oktavian (2012)
Rizka Auliana (2012)
Sari Narulita (2012)
Sukesta Muhammad (2012)
Widyastuti Utami (2012)
Winna Widya L. (2012)

Catatan Hati Ibu Guru 2


“ibu sih gak perhatiin Vika! Vika kan mau juga di perhatiin! Ibu perhatiannya sama yang kecil-kecil mulu! Vika gak mau main sama ibu!”

Wajah cantik dihadapanku itu memerah. Matanya sembab berlinang air mata. Suaranya bergetar menahan kesal. Aku mundur perlahan, gentar…

“Astagfirullah… apa yang barusan ku lakukan sehingga membuatnya menangis?” batinku bertanya menyudutkan diriku sendiri, bodoh…

Kuraih tangan mungilnya, aku berkata terbata-bata, menjelaskan bahwa aku tak mengerti inginnya. Dia menepisku cepat sambil tetap terisak. Aku takut…

Lamunanku buyar oleh suara gemericik air yang tumpah dari ember cucian. Jam 13.29. baru sehari setelah aku menghabiskan seharian penuh bermain di Taman Mini dengan mereka, anak-anak comdevku yang lucu. Beberapa kali aku ke sana, membuat sebuah puzzle di memoriku, semuanya indah. Tapi setelah ini, hari-hari kedepan, ketika aku berkunjung lagi, aku pasti akan lebih sering de ja vu dengan kenangan bersama anak-anak. Ini yang terindah.

Mereka, aku menyaksikkan mereka tumbuh. Gozzanku yang dulu selalu tertawa lucu, kini  mulai bisa berekspresi marah ketika ada sesuatu yang mengusiknya. Rukiku yang pendiam, telah membuatku tercengang dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi, ibu itu yang dilangit roket ya? mau keluar angkasa ya bu? Tapi kenapa ruang angkasa ada di atas? Kalau di atas, ntar bernafasnya sama apa? Luar angkasa gede ya bu?. Subhanallah… apakah Allah yang mengajarimu demikian nak? Bahkan ibu tak mampu menjelaskannya. Ociku yang kini bisa mengeja, Nabilahku yang kini pandai bernyanyi dan bercerita, Sifaku yang matanya berbinar di atas ayunan, ibu dulu sama sepertimu nak, selalu suka ayunan dan angin yang selalu berbisik, suatu saat nanti ibu pasti bisa terbang seperti burung. Dan suatu saat kaupun akan pergi jauh, terbang seperti burung, menyaksikkan mimpimu dilangit tercapai satu demi satu. Iipku yang pucat karena sakit, Allah hanya sedang mengajarimu bahwa selalu ada bahagia bagaimanapun jua kondisimu nak. Indraku yang masih penakut, suatu saat nanti kau akan menjadi seperti Khalid yang pemberani nak. Dyraku yang pencemburu, sekarang kau lebih siap meninggalkan TK nak. Aku menyaksikkan semua… mereka, anak-anakku, satu demi satu mereka tumbuh.

Suatu hari nanti, ketika Allah takdirkan ada seorang malaikat kecil yang lahir dari rahimku, aku pasti akan teringat pada kalian, nak. Malaikat kecilku pun akan tumbuh selucu Gozan, sepintar Ruki, seceria Nabilah, sepolos Sifa, dan sesholeh kalian semua. Dan ketika saat itu tiba, ketika malaikat kecilku baru belajar bicara sambil mengerjapkan mata, kalian mungkin sudah tumbuh lebih besar dari sekarang. Kalian mungkin akan lupa, bahwa dulu kalian punya ibu guru yang setiap jum’at jilbab putihnya kalian kotori dengan cap tangan kalian, ibu guru yang selalu menangis ketika menuliskan nama kalian dalam catatan, ibu guru yang selalu kalian kecup tangannya berkali-kali, ibu guru yang menemani kalian melambung tinggi bermain ayunan dan jungkat-jungkit, ibu guru yang berteriak gemas manakala kalian sedikit lebih aktif dari biasa…

Ketika nanti Allah sempatkan malaikat kecilku tumbuh remaja, kalian mungkin telah dewasa, memakai seragam putih abu-abu dan jilbab panjang yang cantik. Vika, kau mungkin telah menjadi mahasiswi yang cerdas, nak. Kala waktu itu tiba, ingin rasanya ibu melihat kalian duduk di puri lingua, berhadapan dengan celoteh anak-anak, tersenyum menanggapi kelucuan dan kenakalan anak-anak, berlarian mengejar ‘Gozan dan Sidiq’ lainya. Ibu ingin kalian meneruskan comdev ini. Menggantikan ibu yang tidak sempurnya dalam mendidik kalian. Sungguh ibu ingin menjadi saksi ketika saat itu tiba, anakku sayang…

Tumbuh dan berkembanglah nak. Jadilah anak-anakku yang sholeh, cerdas, dan apa adanya. Kau tahu, ingin sekali rasanya suatu saat nanti jilbab putih ibu akan bersaksi di hadapan Ilahi, bahwa noda bekas tangan kalian ini mengizinkan ibu mecicipi Syurga dan membuat bidadari cemburu karenanya. Doakan ibu nak, anakku sayang…

Jakarta, 1 Juli 2012
Terimakasih Allah yang telah mengizinkanku memiliki harta yang paling terindah…


oleh : Nadia

Catatan Hati Ibu Guru 1


Dalam perjalanan enam bulan ini nak, bu gurumu ini ternyata tak tau banyak tentang duniamu. bu guru mungkin pernah marah atau berteriak kepadamu, maafkan nak… maafkan jika ternyata itu membatasi duniamu.

Ketika kau berkata enggan mewarnai, harusnya ibu tak perlu memaksamu mewarnai dengan menyodorkan gambar dan crayon warna-warni. Karena harusnya ibu tau bahwa duniamu ternyata lebih indah dari batang crayon warna-warni.

Ketika kau lebih memilih berlarian, melompat, merangkak, berkejaran, atau bersembunyi, harusnya ibu mengerti bahwa kau sedang melatih motorikmu, mengeksplorasi fisikmu, bercanda dengan tanah dan debu yang menempel pada baju dan celanamu. Harusnya ibu ikut berlarian menemanimu. Harusnya ibu tau itu nak…

Ketika kau berdo’a dengan bahasamu sendiri, dengan tangan terangkat dan khusyuk yang tak pernah tercipta, harusnya ibu tau bahwa itulah caramu berbicara dengan Tuhanmu. Kau berbicara dengan-Nya dengan caramu sendiri yang indah nak…

Maaf ketika ibu ternyata pernah merusak harapanmu, menghancurkan kepercayaanmu, dan membatasi duniamu. maaf karena tak bisa memahami duniamu secara sempurna. Maaf untuk warna-warna pucat yang terkadang secara tak sengaja tercipta.

Izinkan bu guru terus belajar memahami pelangi warnamu. Izinkan bu guru belajar memasuki duniamu. izinkan bu guru belajar berbicara dengan hati. Izinkan untuk kesekian kali nak… izinkan…

Jakarta, 8 Desember 2011
Tak ada seorangpun yang berhak merenggut dunia anak-anak. Tak ada seorangpun yang berhak merusak harapan dan kepercayaan anak-anak. Karena kau tahu kenapa? Karena mereka memiliki dunia yang istimewa. Dunia mereka adalah dunia universal, mereka saling berbagi dunia yang sama dengan anak-anak di belahan bumi manapun. Mereka saling memahami tanpa perlu berkomunikasi. Dunia bermain warna-warni, aku menyebutnya demikian. Jangan pernah membatasinya. Jangan pernah merusaknya. Jangan pernah


oleh: Nadia